Nyangkruk Yuk!

Setelah lama berkubang dalam sebuah kesesatan yang saya alami sendiri dan saya nikmati sendiri juga. Blog ini akhirnya saya buat. Untuk berbagi setiap pembicaraan yang ada di setiap warung kopi/angkringan. Karena menurut saya, hanya di warung kopi/angkringan lah kita bisa berekspresi semau kita. Kita bisa sedikit ber-celethuk ringan untuk memberi pendapat tentang kehidupan yang sudah kita lalui dalam sehari penuh atau bahkan menanggapi kejadian yang terjadi di sekitar kita.

Selamat menikmati!
Jangan Lupa Nyangkruk Dulu!

Iklan

Nyangkruk: Endonesa

Selamat datang di Endonesa, dimana semua yang terjadi di masyarakat memiliki tingkat humor yang sudah sangat tinggi sekali. Kalian akan sangat mudah sekali menemukan momen-momen yang lucu tersebut. Televisi, Youtube, Instagram, dan lain sebagainya adalah sebuah media sosial saat ini yang menyajikan tontonan dengan humor yang memiliki level dewa.

Ini saya tulis sesuai dengan apa yang saya lihat.

 

Psikotropika
Baru-baru ini sedang booming berita tentang penangkapan artis yang dinyatakan mengonsumsi psikotropika. Setelah saya mengikuti setiap alur berita yang di sajikan media sosial saat ini, akhirnya saya dapat menemukan titik kelucuannya. Baru saja saya melihat video di youtube bahwa psikotropika yang di konsumsi oleh artis tersebut sudah menjadi obat yang aman untuk di konsumsi dan memiliki manfaat untuk memberikan rasa kantuk. Nah, lucunya adalah ketika pihak yang menangani kasus ini menyatakan bahwa setiap obat yang memberikan efek kantuk adalah psikotropika atau mengandung psikotropika.

Berarti setiap orang yang mengonsumsi yang katakanlah “obat tidur” tersebut harus di polisikan tak peduli alasan mengapa mengonsumsinya, tak peduli walaupun sudah berbentuk obat untuk menyembuhkan, tak peduli menggunakan resep dokter atau tidak, intinya harus di tindak lanjuti. Bukankah seperti itu?

 

Di awal tahun pun ada berita yang begitu menggemparkan. Seorang suami memberikan obat berupa sari ganja untuk istrinya yang sedang sakit dan memberikan perubahan yang baik bagi istrinya tersebut. Tapi ketika pihak yang berwajib mengetahui itu, sang suami di tangkap karena mengobati penyakit sang istri tercinta menggunakan ganja. Dan tepat 32 hari setelah sang suami ditangkap, istrinya meninggal dunia karena sudah tak sanggup lagi menahan penyakit.

Ya,  selamat datang di Endonesa. Dimana sebuah obat bisa jadi perkara besar.

 

Freelancer Hakim
Di pukuli ramai-ramai dan di bakar hidup-hidup hanya karena salah sangka. Disangka pencuri padahal tukang service. Freelancer Hakim adalah pekerjaan yang memiliki tingkat humor tinggi, bagaimana tidak, mereka menghakimi secara membabi buta tanpa berpikir panjang sama sekali. Ya, saya memberikan julukan freelancer karena mereka hanya datang bila di perlukan. Walaupun fakta sebenarnya adalah mereka sendiri yang datang lalu menunjukan kuasanya sebagai hakim. Keren bukan?

Ya, selamat datang di Endonesa. Dimana masyarakatnya suka menghakimi tanpa kompromi.

 

Bullying
Beberapa minggu terakhir ini saya melihat di beberapa sosial media bahwa kasus bullying sedang marak terjadi. Untuk yang satu ini saya gak kaget atau memberikan tanggapan lebih karena ini sudah sangat lucu sekali.

Saya dulu pernah di bully. Saya dan semua teman seangkatan saya pernah di bully. Senioritas merajalela di sekolah saya. Tapi saya tidak pernah membalas semua perbuatan bullying tersebut, kenapa? Karena saya masih percaya tentang karma. Alhasil, saya jalani saja apa yang ada. Dibully adalah makanan saya sehari-hari. Terkadang memang saya menolak untuk di perlakukan seperti itu karena menurut saya sudah kelewatan.

Ya, selamat datang di Endonesa. Dimana menyiksa sesama manusia sangat menyenangkan.

 

Jika kalian masing-masing memiliki perbedaan pendapat dari apa yang saya sampaikan, mari berdiskusi.

Jangan lupa Nyangkruk dulu!!

hepatalgia.

Disini, secangkir kopi hitam mengepulkan asap penuh pilu. Bangku-bangku kosong menanti untuk di duduki. Kendaraan lalu-lalang di aspal jalanan penuh duri. Ada seseorang di seberang sana. Duduk sendiri dengan mata penuh harap pada secangkir kopi di depannya. Rambut hitam terurai mesra menanti belai. Dijari manisnya tersemat benda paling indah.

Angin kali ini dengan sengaja berkata ingin mencintainya, seperti langit malam menjemput senja kemerahan di ufuk barat itu. Tapi kopi keburu di sesapnya dan dirasakanya pahit akan sebuah arti kata temu. Ya.. Temu memang tak pernah menyenangkan karena selalu saja berakhir dengan pisah. Lalu angin mencari cara lain untuk mencintainya, seperti embun yang terhempas cahaya di pagi hari ini. Tapi hati keburu di tutupnya agar tak ada lagi kasih yang masuk dengan sengaja. 

Lalu langit berkata sudah saatnya untuk berhenti berhembus di urat nadinya. Angin pun paham bahwa kini dia tak lagi bisa menentukan arahnya sendiri. Bahwa ia kini tersesat dan meronta agar di ketemukan kembali pada cintanya. Seseorang di seberang sana pun paham bahwa semestinya ia tak membuka sedikitpun harap agar angin tak meratap. 

Nyangkruk: Eksploitasi

Sudah beberapa malam saya tidak menulis, di karenakan kesibukkan di dunia nyata. Tapi malam ini saya mau menulis lagi, topik yang sudah lama ingin tulis dengan bahasa saya sendiri yaitu eksploitasi.

Dalam KBBI, Eksploitasi berarti pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. Banyak sekali eksploitasi di Indonesia ini, tapi untuk malam ini saya fokus ke eksploitasi anak. 

Kenapa? Saya suka nongkrong/nyangkruk bersama teman-teman saya dan warung kopi yang biasa saya kunjungi selalu saja di datangi oleh segerombolan anak kecil yang mengemis meminta sedikit uang receh para pengunjung di warung kopi ini. Segerombolan disini tidak berarti langsung 10 anak atau lebih datang dan langsung meminta. Tapi segerombolan anak kecil ini seperti memiliki giliran mereka sendiri untuk melancarkan aksinya dalam meminta belas kasih dari para pengunjung warung kopi. 

Dan sempat beberapa kali teman saya mengajak salah seorang anak untuk mengobrol sebentar. Tentang dimana orang tuanya dan bekerja apa, masih sekolah atau tidak, dan kenapa tidak belajar. 

Jawabannya pun sungguh miris, mungkin karena anak kecil susah sekali untuk bicara bohong tetapi dipaksa untuk bicara bohong. Anak kecil itu mengatakan bahwa ibunya tidak bekerja, ayahnya bekerja sebagai tukang becak, dan tiap malam tidak diperbolehkan untuk kaya.

Saya berusaha keras untuk mencerna setiap ucapan yang di katakan anak kecil itu. Dan saya menangkap bahwa anak-anak kecil ini dengan sengaja di eksploitasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, oleh orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan dengan memanfaatkan wajah polos anak kecil yang belum tahu kerasnya kehidupan sebenarnya, orang-orang yang dengan tega menghapus masa kecil anak-anak itu yang sebenarnya sangat menyenangkan.

Menurut yang saya amati, beberapa anak kecil itu acap kali meminta uang yang lebih banyak. Misal saya hanya memberi 500 rupiah tapi kemudian mereka meminta lebih. Itu menunjukkan bahwa mereka memang bekerja dalam perintah orang lain dan memiliki target penghasilan yang nantinya akan di berikan kepada “bos” mereka itu.

Saya disini tidak mau mengkritik suatu hukum di Indonesia yang belum berjalan dengan semestinya. Saya hanya bersimpati pada anak-anak kecil itu. 

Seharusnya masa kecil mereka di isi dengan bermain bersama teman-temannya bukan di isi dengan bekerja memohon belas kasihan orang lain. Ah, saat usia saya masih sangat muda seperti mereka, saya banyak sekali mengisinya dengan bermain bersama teman-teman sebaya saya, tak memikirkan hal-hal yang seharusnya dipikirkan oleh para orang dewasa. 

Celethuk: Yang Adiktif Itu Oksigen

Malam ini saya menginap di malam, setelah seharian keliling ke rumah saudara disini. Rasa lelah hinggap dengan sekejap. Kopi yang saya minum sudah tiga gelas lebih karena di tiap rumah saudara hanya menyuguhkan kopi tanpa ada teh sama sekali. Tak apa, toh saya juga suka ngopi. Banyak saudara saya yang ngopi dan juga merokok, awalnya, saya hanya disuguhi kopi. Dan semua sudah berkumpul mulailah pertanyaan sulit di ucapkan. Seperti kapan nikah, pacarnya mana, kerja apa, dan KAMU NGEROKOK NGGAK?
Sangat bingung. Tapi ayah saya langsung menyahut dengan kata tidak. Dia melarang saya merokok karena takut ketagihan/adiktif. 
Lalu saya tiba-tiba ber-celethuk dalam hati. 

Rokok itu bukan adiktif, karena tanpa rokok saya masih bisa hidup. Yang adiktif itu oksigen, karena tanpa oksigen saya tidak bisa hidup.

Benar bukan?

Tanpa rokok, saya masih bisa hidup. Dan dengan merokok saya juga masih bisa hidup. 
Lalu apa bedanya? Merokok dan tidak merokok?

Merokok menyebabkan kanker dan kematian. Lha? Kalaupun tidak merokok apakah resiko kanker bisa hilang dengan sepenuhnya? Tidak juga kan?

Lalu kopi menurut saya juga bukan adiktif, karena

Namanya juga manusia, selalu ingin berinovasi. Tidak melulu minum air putih saja. Sama seperti hidup yang tidak ada jalan lurus begitu saja.

Mungkin itu juga yang membedakan manusia dengan hewan. Hewan jika haus tinggal minum, entah itu air kotor atau bersih, tapi kalau manusia, selalu memilih yang bersih dan selalu ingin berinovasi.
Yap, itu menurut saya. Saya juga tidak memungkiri bahwa isi konten ini akan saya edit kembali karena seiring bertambahnya usia, bertambah pula pemikiran dewasa kita.
Jadi,

Jangan Lupa Nyangkruk Dulu!

Nyangkruk: Ngopi dan Sebuah Kehidupan

Ketika sedang ngopi, saya pernah terpikir sekilas. Jika di telusuri, ngopi juga mengandung arti sebuah kehidupan. Seperti filosofi orang jawa yang paling terkenal, Alon-alon waton kelakon.

Yang artinya dalam hidup kita harus selalu bersabar dalam menjalani hidup. Seperti ketika sedang ngopi, kita tidak bisa langsung meminumnya tapi jika kalian ingin langsung mencoba silakan saja karena saya tidak mau menyiksa mulut saya. Ketika ngopi kita bisa menuangkan sedikit ke atas piring kecil sebagai tatakan gelas(saya lupa namanya) sebut saja Lepek. Dan perlahan kita tiup kopi nya untuk sedikit mendinginkan lalu di seruput. Nikmat sekali.

Dalam hidup juga seperti itu, kita di ajarkan untuk sabar menjalani langkah demi langkah untuk mendapatkan hasil yang di inginkan. Gagal? atau Lelah? Nyangkruk dulu sambil ngopi. Setelah ngopi, dilanjutkan kembali sampai berhasil. Nikmati saja, namanya juga hidup, pasti ada saat dimana kita lelah atau seakan putus asa.

 

Jangan Lupa Nyangkruk Dulu!

Nyangkruk: Cara Menikmati Kopi

Banyak orang diluar sana yang belum tahu betapa nikmatnya minum kopi. Padahal jika sudah tahu rasanya pasti bikin ketagihan. Karena akan ada sebuah rasa puas yang berbeda-beda dari setiap orang setelah minum kopi. Dan ada juga berbagai macam alasan orang akhirnya menyukai kopi.

 

Mungkin seperti apa yang dikatakan oleh Dee Lestari;

Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.

 

Semanis apapun kehidupan seseorang, tak dapat kita pungkiri, pasti ada sisi pahit yang selalu ada dalam kehidupannya. Dan dalam kasus saya, minum kopi/Ngopi adalah sebuah cara saya untuk menikmati sisi pahit kehidupan saya sendiri. Tak jarang pula, saya ngopi bukan karena merasakan kepahitan dalam perjalanan hidup setiap harinya tapi karena saya sedang bahagia karena mendapat sesuatu dalam perjalanan hidup saya setiap harinya. Atau sekedar ingin bertemu dengan kawan lama.

 

Menikmati kopi memiliki satu cara khusus yang tidak banyak orang ketahui yaitu, Terserah Kita. Kita tidak bisa mematok bagaimana cara menikmati kopi karena setiap orang memiliki caranya sendiri. Entah itu sambil mendengarkan musik, sambil tiduran, sambil mengerjakan tugas, sambil merokok, sambil baca koran, sambil boker sekalipun. Itu semua tergantung tiap individu agar mendapat kepuasan dalam meminum secangkir kopi. Dan untuk kasus saya, saya memilih untuk nyangkruk di warung kopi sambil bersenda gurau bersama sang pemilik warung atau pelanggan yang datang untuk ngopi juga, menikmati hari yang akan berganti.

 

 

Jangan Lupa Nyangkruk Dulu!